Review Film Operation Finale
Seperti namanya, film ini menceritakan tentang operasi terakhir. Operasi terakhir untuk menangkap dalang utama yang masih hidup dalam peristiwa holocaust yaitu Adolf Eichmann (diperani oleh Ben Kingsley). Adegan pertama dimulai dengan kesalahan Badan Intelijen Israel yang salah membunuh orang kemudian berganti dengan adegan dimana Adolf Eichmann ‘membela diri’ dengan mengatakan bahwa “… Saya hanya berusaha semampu saya untuk membela Jerman dengan melawan musuh” yang dimana kalimat ini merupakan intisari dari pemikiran Eichmann.
Berita bahwa Eichmann masih hidup
berawal dari laporan Lothar Hermann (diperani oleh Peter Strauss) seorang
yahudi tunanetra yang pernah tinggal di Jerman tentang pacar putri
angkatnya yang bercerita bahwa ia
merupakan anak anggota prajurit SS (Schutzstaffel/Paramiliter Jerman Nazi) yang
kemudian diasuh oleh pamannya di Buenos Aires, Argentina, sepeninggal ayahnya.
Akan tetapi badan intelijen Israel perlu mengkonfirmasi bahwa Ricardo Klement,
yang dipercayai sebagai nama samaran Eichmann memang benar Eichmann. Disinilah Sylvia
Hermann (Haley Lu Richardson) berperan dengan mengambil informasi yang sebisa
mungkin didapatkan dengan datang ke rumah Klaus Eichmann. Singkat cerita,
setelah terkonfirmasi, pemerintah Israel langsung menyusun rencana klandestin
penculikan Eichmann dengan membentuk tim pasukan khusus Shabak. Israel memilih
cara ‘adil’ dengan mengadili Eichmann dan menjadikannya sebagai penegas ingatan
tentang kejinya holocaust setelah 15
tahun perang usai. Menculik Eichmann merupakan hal yang mudah, namun
mengeluarkan Eichmann dari negara Argentina merupakan hal yang lumayan sulit.
Namun Peter Malkin (diperani oleh Oscar Isaac) berhasil mengakali dengan
memanfaatkan hari kemerdekaan Agentina untuk mengirim diplomasi dan menggunakan
pesawat sebagai transportasi utama.
Disinilah keseruan dimulai, para
anggota tim terbang ke Buenos Aries dengan menggunakan berbagai paspor negara
seperti Inggris, Prancis, Spanyol, dan Amerika dan tiba pada bulan Mei 1960.
Mereka mulai memulai operasi dengan mengintai keseharian Eichmann. Dan singkat
cerita, mereka berhasil. Mereka berhasil menculik dan membongkar identitas
palsu Eichmann, bertahan 10 hari lebih lama dikarenakan penerbangan yang
ditunda, bahkan mereka berhasil memenuhi syarat konyol ELAL, penerbangan Israel
yang membutuhkan tanda tangan kebersediaan Eichmann untuk datang ke Israel yang
secara mengejutkan didapatkan dengan cara ‘halus’. Dan yang lebih baiknya lagi,
tidak ada satupun yang meninggal, bahkan Lothar Hermann dan Sylvia Hermann yang
sempat ditangkap oleh polisi pro nazi untuk diinterogasi dengan penyiksaan.
Film ini memang bagus dan sekilas
mengingatkan terhadap teori neo-realis mengenai sifat dasar manusia dan
tindakan negara namun sedikit mengecewakan dari segi plot. Terdapat banyak
bagian fiksi namun tidak dikembangkan sepenuhnya. Contohnya tindakan dan
perilaku Eichmann yang tidak terduga yang jika bawa ke dalam alur fiksi akan
sangat menarik. Seperti pada saat Eichmann keluar rumah dan melihat salah satu
anggota tim yang menyamar lalu menggambar wajah orang itu dan menggambarkan
bendera Israel yang bisa diartikan bahwa ia sadar bahwa ada kemungkinan ia
dimata-matai. Kemudian cerita pengalaman hidup yang secara tidak langsung
melakukan pembelaan (justify) terhadap tindakan keji nya dimana cerita ini
digambarkan seakan - akan berhasil menarik simpati dari tokoh utama Peter
Malkin (walaupun kemungkinan besar pada kenyataannya tidak) bisa membuka
peluang bagi Eichmann untuk kabur mengingat Eichmann memiliki ratusan teman
nazi disana dan berada dalam naungan Argentina. Namun bisa diambil pelajaran
penting bahwa belum tentu orang jahat terlihat seperti orang jahat. Orang biasa pun memiliki kemungkinan untuk
melakukan kejahatan atau tindakan kriminal yang besar.
Dalam Film ini bisa kita lihat
hubungannya dengan Hukum Internasional. Seperti pengakuan kedaulatan terhadap Argentina.
Israel mematuhi protokol dalam melakukan tindakan yang berhubungan dengan
negara. Dan perjanjian Ekstradisi yang pertama muncul dalam pemikiran saya.
Sepertinya masalah utama dalam hukum ialah penerapan atau pelaksanaannya. Di
Film tidak dijelaskan atau disebutkan tapi sepertinya perjanjian ekstradisi
antara Israel dan Argentina tidak dilakukan atau lebih tepatnya ditolak oleh
Argentina. Pertama karena Argentina masih pro dengan Nazi, ada koneksi dengan
presiden Argentina saat itu Juan Péron, seperti yang diceritakan dalam film
tersebut. Dan kemungkinan kedua oleh karena Argentina memerlukan perkembangan
ekonomi yang dimana saat itu banyak anggota nazi yang memiliki kekayaan yang
banyak hasil dari jajahan dan rampasannya. Sehingga disatu sisi hal ini
menguntungkan bagi Argentina. Belum terhitung biaya untuk masuk ke negara
tersebut.

Komentar
Posting Komentar